page contents
 
Uum G. Karyanto 

 Incumbent = Petahana

Kata 'incumbent' sebenarnya bisa saja diganti dengan istilah 'penjabat' atau 'pejabat'. Namun, kata 'pejabat' terlanjur digunakan dengan arti 'pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting'. Sementara itu, 'penjabat' memiliki arti 'pemegang jabatan sementara'. 

Salomo Simanungkalit dari Harian Kompas mengusulkan kata 'petahana' sebagai padanan kata 'incumbent'. Setelah saya lihat, di dalam KBBI terdapat kata 'tahana' yang berarti 'kedudukan, martabat (kebesaran, kemuliaan, dsb) dan kata 'bertahana' yang berarti 'bersemayam; duduk'. Jika kita berpedoman pada pola pembentukan kata bahasa Indonesia, kata 'petahana' dapat diterima. Coba kita lihat analogi sebagai berikut.
tinju -- bertinju -- petinju
tatar -- bertatar -- petatar
Maka:
tahana -- bertahana -- petahana.

Dari segi arti juga bisa diterima. Kata ini dapat kita artikan 'yang sedang memegang jabatan'. Contoh pemakaiannya: Sebagai petahana, Foke tidak boleh berkampanye pada pilgub DKI Jakarta sebelum mengambil dan diizinkan cuti.

Bagaimana kalau ramai-ramai (bersama Pak Salomo) kita usulkan agar kata 'petahana' dimasukan ke dalam KBBI edisi berikutnya sebagai pengganti kata 'incumbent'.
 
 
Yadhi Rusmiadi Jashar 

Menurut Nurgiyantoro, Sudut pandang orang ketiga (dia) dibagi menjadi dua, yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu dan sudut pandang orang kletiga sebagai pengamat. Pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.

Contoh:
Sudah genap satu bulan dia menjadi pendatang baru di komplek perumahan ini. Tapi, belum satu kali pun dia terlihat keluar rumah untuk sekedar beramah-tamah dengan tetangga yang lain, berbelanja, atau apalah yang penting dia keluar rumah.
“Apa mungkin dia terlalu sibuk, ya?” celetuk salah seorang tetangganya. “Tapi, masa bodoh! Aku tak rugi karenanya dan dia juga tak akan rugi karenaku.”
Pernah satu kali dia kedatangan tamu yang kata tetangga sebelah adalah saudaranya. Memang dia sosok introvert, jadi walaupun saudaranya yang datang berkunjung, dia tidak bakal menyukainya.

Kalau orang ketiga sebagai pengamat, si pengarang menceritakan si tokoh secara terbatas. Pengarang cuma melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.

Contoh:
Entah apa yang terjadi dengannya. Datang-datang ia langsung marah. Memang kelihatannya ia punya banyak masalah. Tapi kalau dilihat dari raut mukanya, tak hanya itu yang ia rasakan. Tapi sepertinya ia juga sakit. Bibirnya tampak kering, wajahnya pucat,dan rambutnya kusut berminyak seperti satu minggu tidak terbasuh air. Tak satu pun dari mereka berani untuk menegurnya, takut menambah amarahnya.

Contoh sudut pandang orang pertama (aku) dapat diperhatikan dalam cuplikan novel Dua Ibu karya Mbak Sowiyah berikut ini.
Dan, dalam hal hubungan adikku dengan laki-laki yang oleh adikku dipanggilnya Mas Bayu itu, akulah yang paling keras menentangnya. Aku yakin, andai saja aku menyatakan setuju, tentu ayah ibuku akan setuju juga (Halaman 137).

 
 
Yadhi Rusmiadi Jashar 
 Contek dan Menyontek

Orang sering menganggap bahwa bentuk dasar dari kata "menyontek" adalah "contek". Kita lalu mengenal kata "contekan". Benarkah anggapan tersebut? Ternyata kita keliru. Bentuk dasar kata "menyontek" adalah "sontek". Menurut KBBI, sontek/menyontek memiliki arti 1) melanggar, menolak, menyerang, menggocoh; 2) mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya, menjiplak. Sontekan memiliki arti hasil menjiplak. Proses morfologi yang benar adalah meN- + sontek --> menyontek (fonem /s/ luluh). Jika mau dipaksakan bentuk dasar "menyontek" adalah "contek", seharusnya bentuk yang benar bukan "menyontek" tetapi "mencontek" karena fonem /c/ tidak luluh atau lesap.
 
 
*Kiki Zakiah Nur, S.S.

Dalam berbahasa, banyak yang sering melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut mungkin disadari, mungkin juga tidak. Akibat kesalahan tersebut, bahasa yang digunakan menjadi kacau. Kekacauan dalam berbahasa ini disebut dengan kontaminasi. Istilah lainnya adalah kerancuan. Kontaminasi atau kerancuan merupakan pencampuradukan dua bentuk bahasa yang masing-masing dapat berdiri sendiri, atau disatukan dalam satu bentukan baru yang tidak sepadan sehingga melahirkan bentukan baru yang kacau.

Contoh kekacauan bahasa pada kata berulangkali dan seringkali. Kedua kata itu sering ditemukan dalam berbahasa. Kata berulangkali sebenarnya berasal dari dua bentukan kata yang benar, yakni berulang-ulang dan berkali-kali. Akan tetapi, orang sering menggabungkan keduanya dan pada akhirnya menghasilkan bentukan baru yang kacau.

Kata seringkali berasal dari kata sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali. Kata sering di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna banyak kali. Jika begitu, makna kata seringkali menjadi banyak kali-kali atau kerap kali-kali. Makna itu tentu kacau karena kata itu memang berasal dari bentukan yang kacau pula. Jadi, bentuk yang tepat untuk kata seringkali adalah kerap kali atau acap kali, atau dapat juga dikatakan sangat sering.

Kata lainnya yang juga sering digunakan secara kacau adalah mengenyampingkan. Untuk membuktikan bahwa kata itu salah dapat dijelaskan struktur katanya.
Kata mengenyampingkan merupakan bentukan dari kata dasar samping yang diberi awalan me- dan akhiran –kan, yaitu me- + ke samping + -kan. Kemudian, unsur-unsur itu disatukan menjadi mengesampingkan. Hanya fonem /k/ pada awal kata ke samping yang luluh menjadi bunyi sengau /ng/, sedangkan bunyi /s/ pada kata samping tidak perlu diluluhkan. Sementara itu, ada juga bentuk menyampingkan yang berasal dari kata dasar samping yang diberi awalan me- dan akhiran –kan, yakni me- + samping + -kan menjadi menyampingkan. Pada bentukan tersebut, fonem /s/ pada awal kata samping menjadi luluh menjadi bunyi sengau /ny/. Jadi, bentukan mengenyampingkan merupakan bentuk rancu dari bentuk menyampingkan dan mengesampingkan.

Ada ungkapan yang sebenarnya kacau. Akan tetapi, karena banyak orang yang tidak mengetahuinya, mereka sering menggunakannya dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bentuk ungkapan itu adalah semakin hari, misalnya semakin hari semakin cantik saja gadis itu. Penjelasannya adalah bahwa kata semakin atau makin diikuti oleh kata sifat atau adjektiva, misalnya semakin baik, semakin lama, makin buruk. Kata semakin atau makin tidak diikuti oleh kata benda atau nomina. Jadi, tidak ada semakin tahun, semakin baju (Buku Praktis Bahasa Indonesia 1). Kata hari juga termasuk jenis kata benda atau nomina. Jadi, ungkapan semakin hari merupakan ungkapan yang kacau.

Sebenarnya kontaminasi atau kekacauan dalam berbahasa ini dapat dihindari asalkan orang tahu bagaimana bentuk yang benar dan tahu bagaimana bentuk yang salah.

*Tenaga Teknis Kantor Bahasa Provinsi Lampung 
 
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar 
Dari Bahasa Sanskerta ke Bahasa Melayu dan Indonesia Modern

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Bahasa Sanskerta sudah ribuan tahun dikenal di Nusantara. Bukti tertua yang sekarang masih ada ialah prasasti-prasasti yang ada di Kutai, Kalimantan Timur dan kurang lebih berasal dari abad ke-4 atau abad ke-5 Masehi.

Karena keberadaan bahasa Sanskerta di Nusantara sudah lama, sudah tentu banyak kata-kata dari bahasa ini yang diserap dalam bahasa-bahasa setempat. Artikel ini membicarakan kata-kata serapan dalam bahasa Melayu tradisional dan dalam bahasa Indonesia modern.

Kosakata dasar

Karena sudah sangat lama dikenal di Nusantara, kata-kata Sanskerta ini seringkali sudah tidak dikenali lagi dan sudah masuk ke kosakata dasar. Oleh karena itu seseorang bisa menulis sebuah cerita pendek yang hanya menggunakan kata-kata Sanskerta saja. Di bawah ini disajikan sebuah cerita kecil terdiri dari kurang lebih 80 kata-kata dalam bahasa Indonesia yang ditulis hanya menggunakan kata-kata Sansekerta saja, kecuali beberapa partikel-partikel. Kata-kata Sanskerta di bawah dicetak tebal:

Karena semua dibiayai dana negara jutaan rupiah, sang mahaguru sastra bahasa Kawi dan mahasiswa-mahasiswinya, duta-duta negeri mitra, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata suami-istri, beserta karyawan-karyawati lembaga nirlaba segera berdharmawisata ke pedesaan di utara kota kabupaten Probolinggo antara candi-candi purba, berwahana keledai di kala senja dan bersama kepala desa menyaksikan para tani yang berjiwa bersahaja serta berbudi nirmala secara berbahagia berupacara, seraya merdu menyuarakan gita-gita mantra, yang merupakan sarana pujian mereka memuja nama suci Pertiwi, Dewi Bumi yang bersedia menganugerahi mereka karunia dan restu, meraksa dari bahaya, mala petaka dan bencana.

Jumlah kata-kata Sanskerta dalam bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia diperkirakan ada sekitar 800 kata-kata dari bahasa Sanskerta. Kata-kata ini ada yang diserap langsung dari bahasa aslinya, namun banyak pula yang diserap dari bahasa Jawa atau bahasa Jawa Kuna. Yang diserap dari bahasa Jawa sering dipakai sebagai pembentukan kata-kata baru dan disebut sebagai neologisme.

Meski kelihatannya hanya sedikit, namun kata-kata ini frekuensinya cukup tinggi dan banyak yang masuk ke kosakata dasar seperti telah dibicarakan di atas ini sehingga tampaknya banyak.

Penyesuaian fonologi

Fonologi bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu agak berbeda. Di dalam bahasa Sanskerta dikenal ada 7 vokal pendek dan 6 vokal panjang (secara teoretis ada 7 vokal panjang pula). Lalu ada 26 konsonan.

  • Vokal
  • Pendek:
  • /a/, /i/, /u/, /ṛ/, /ḷ/, /e/, dan /o/
  • Panjang:
  • /a:/, /I:/, /u:/, /ṛ:/, /ḷ:/, /ai/, dan /au/.
  • Konsonan
  • Letupan
  • /k/, /g/, /c/, /j/, /ṭ/, /ḍ/, /t/, /d/, /p/, /b/
  • Letupan yang disertai hembusan
  • /kh/, /gh/, /ch/, /jh/, /ṭh/, /ḍh/, /th/, /dh/, /ph/, /bh/
  • Sengau
  • /ng/, /ñ/, /ṇ/, /n/, /m/
  • Semivokal
  • /y/, /r/, /l/, /w/
  • Sibilan
  • /ś/, /ṣ/, /s/, /h/
  • Lain-lain
  • /ḥ/, /ṃ/
Dalam bahasa Melayu tidak ada permasalahan berarti dalam menyesuaikan vokal-vokal Sanskerta. Namun karena dalam bahasa Melayu tidak ada vokal panjang, maka semua vokal panjang berubah menjadi pendek.

Selain itu ada hal menarik dalam penyesuaian vokal /r/. Vokal ini sekarang di India dilafazkan sebagai /ri/ sementara zaman dahulu diperkirakan vokal ini dilafazkan sebagai /rə/ atau /'ər/, mirip seperti dalam bahasa Jawa. Inilah sebabnya mengapa nama bahasa Samskrta di Indonesia dilafazkan sebagai Sanskerta, tetapi di India sebagai Sanskrit. Dalam bahasa Melayu pada beberapa kasus vokal ini dilafazkan sebagai /ri/, namun pada kasus-kasus lainnya dilafazkan sebagai /'ər/. Selain itu kata-kata Sanskerta yang diserap dari bahasa Jawa seringkali juga memuat pelafazan /'ər/ atau /rə/.

Beberapa contoh:

  • Sebagai /ri/ -> “berita”, “berida”.
  • Sebagai /rə/ -> “bareksa”
  • Serapan dari bahasa Jawa /'ər/ -> “werda”
Kemudian perbendaharaan konsonan bahasa Melayu tidak sebanyak bahasa Sanskerta. Konsonan retrofleks tidak ada padanannya dalam bahasa Melayu sehingga disesuaikan menjadi konsonan dental. Lalu dari tiga sibilan dalam bahasa Melayu yang tersisa hanya satu sibilan saja, meski dalam huruf Jawi seringkali sibilan retrofleks atau palatal ini ditulis menggunakan huruf syin ش. Misalkan kata kesatria yang dalam bahasa Sanskerta dieja sebagai kṣatriya (kshatriya) dalam tulisan Jawi dieja sebagai کشتريا.

Lalu kasus menarik selanjutnya ialah penyesuaian konsonan yang disertai dengan aspirasi atau hembusan. Dalam bahasa Melayu seringkali hembusan ini juga dilestarikan. Sebagai contoh diambil kata-kata:

  • bhāṣa -> bahasa
  • chaya -> cahaya
  • phala -> pahala
Hal ini justru tidak dilestarikan dalam bahasa Nusantara lainnya, misalkan bahasa Jawa dan bahasa Bali. Di sisi lain nampaknya hal ini justru ada dalam bahasa Madura di mana aspirasi ini terlestarikan pula pada konsonan eksplosiva bersuara.

Kemudian semivokal /y/ dan /w/ pada posisi awal berubah menjadi /j/ dan /b/. Contohnya ialah kata-kata “jantera”, “bareksa”, “berita”, dan “bicara”.

Lalu anusvara /ṃ/ (/m./) dalam bahasa Melayu dilafazkan sebagai /ng/ atau sebagai sengau homorgan.

Daftar

Di bawah ini diberikan daftar kata-kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia beserta ejaan asli dalam bahasa Sanskerta.

A

  • adi (ādi): utama, pertama
  • adicita (ādicitta)
  • adikara (adhikara)
  • adipati (ādipati): raja agung
  • adiraja (ādirāja): raja utama
  • Aditya (Āditya): (Dewa) Matahari
  • agama (āgama): din; tradisi suci
  • aji: mantra
  • aja: hanya
  • aksara (akṣara): huruf
  • aksi (akṣi): mata, sesuatu yang dilihat
  • alpa : teledor, kekurangan
  • amerta (amṛta): ambrosia, nektar, air kehidupan
  • ancala (acala): gunung
  • aneka : macam-macam
  • angka : bilangan
  • angkara : murka
  • angkasa (ākāśa): langit
  • angsa (haṃśa): sowang
  • angsoka (aśoka): sejenis pohon
  • aniaya (anyāya): siksa
  • anitya: ketidakkekalan
  • antara (antara): lain
  • antariksa (antarikṣa): luar angkasa
  • anugerah (anugraha): pemberian
  • arca (arcā): patung
  • ardi (ardi): gunung
  • Arya : bangsawan, orang India Utara
  • asa : jiwa (dalam frasa "putus asa")
  • asmara (smara): cinta
  • asrama (āśrama): tempat padepokan
  • asta (aṣṭa): delapan
  • astana (āsthāna): tempat pemakaman raja dan kerabatnya. Lihat pula istana.
  • Atharwaweda (atharvaveda): salah satu dari empat kitab Weda
  • atma (ātmā atau ātma): jiwa
  • atmaja (ātmaja atau ātmajā): anak
  • Awatara (avatāra): penjelmaan, penampakan Dewa di dunia.
B

  • baca (vaca): mengartikan tulisan
  • bada (vāda): bicara
  • bagai (bhāga): mirip
  • bagi (bhāgī):
    • bagian (bhāgya):
    • bahagian (bhāgya):
  • bahagia (bhāgya) : sukacita
  • bahasa (bhāṣa): logat
  • bahaya (bhaya): sesuatu yang mengancam
  • bahna (bhāna): karena
  • bahtera (vahitra): kapal
  • bahu (bāhu): lengan
  • bahureksa (bāhurakṣa): hiasan tangan
  • baiduri (vaidūrya): opal
  • bakti (bhakti): hormat, loyal
  • bala (bala): tentara
  • banaspati (vanaspati): pohon besar
  • bangsa (vaṃśa): rakyat
  • bangsawan
  • bangsi (vaṃśi): peluit
  • bareksa (vṛkṣa): pohon
  • basmi (dari frasa bhasmī bhūta): musnah
  • Batara (bhaṭāra): Dewa
  • Batari (bhaṭārī): Dewi
  • bausastra (bahuśāstra): kamus
  • baya (vayas): usia
  • bayangkara (bhayaṃkara): penjaga
  • bayu (vāyu): angin
  • bea (vyaya): ongkos
    • biaya (vyaya)
  • beda (bheda): diferensi
    • beza
  • bedama
  • begawan (bhagavān): orang suci
  • bejana (bhājana): tempat menampung
  • belantara (vanāntara): hutan
  • bencana (vāñcana): malapetaka
  • benda (bhāṇḍa): obyek
  • bendahara (bhāṇḍāgāra): penjaga uang
  • berhala (bhaṭāra): bentuk Tuhan
  • berhana
  • berita (vṛtta):
  • biara (vihāra): tempat kaum rohaniawan
    • biarawan
    • biarawati
  • bicara (vicāra): omong
  • bidadari (vidyādharī): makhluk sorgawi
  • biji (bijā): isi buah
  • biksu (bhikṣu): seorang rohaniawan Buddha
    • biksuni
  • binasa (vināśa): hancur
  • birahi (virahin): ingin bercinta
  • bisa (1) (viṣa): racun
  • bisa (2) (viṣa): boleh
  • brahma (brāhma)
  • brahmana
    • brahmani
  • brahmi
  • brata (brata): tapa
  • buana (bhuvana): dunia
  • budaya (buddhaya): berhubungan dengan akal, adab
  • Buddha (buddha): seseorang yang telah sadar
  • budi (buddhi): akal
  • bujangga (bhujaṅga): ilmuwan. Lihat pula pujangga
  • bukti (bhukti):
  • bulu roma
  • bumantara (byomāntara): langit
  • bumi (bhūmi): planet ketiga dalam tatasurya, tanah
  • bumiputera (bhūmiputra): pribumi
  • bupala (bhūpāla): raja
  • bupati (bhūpati): raja
  • busana (bhūṣaṇa): pakaian bagus
  • buta (bhūta): raksasa
  • butala (bhūtala): bumi
  • butayadnya (bhūtayajña): persembahan atau kurban kepada buta
C

  • cabai (cavi): lombok
  • cahaya (chāya): sinar
  • cakrabuana (cakrabhūvana):
  • cakra (cakra): roda
    • cakram (cakram): diskus
  • cakrawala (cakravāla): ufuk, horison
  • candala (caṇḍāla): orang buangan; dari kasta terendah; paria
    • cendala
  • candi (caṇḍi): gedung peninggalan Hindu-Buddha kuna
  • candra (candra): bulan (satelit bumi)
  • candramawa
  • candrasa
  • candrasengkala
  • cara (ācāra): kelakuan
  • caraka (caraka): duta
  • catur (1) : sebuah permainan papan
    • caturangga
    • syatranji
  • catur (2): empat
  • cedera (chidra): luka
  • cela (chala): cacat
  • celaka (chalaka): musibah
  • cempaka (campaka): nama sebuah bunga (Michelia Champaka)
  • cendana (candana): nama sebuah tumbuhan
  • cendekia
    • cendekiawan
  • cendera
  • cendrawasih (candra + vāsi): nama burung di Papua
  • cengkerama (caṅkrama): bersantai
  • cerita (carita): kisah
    • ceritera (caritra): kisah
  • cerna
  • cinta (cintā): kasih
  • cintamani
  • cita (citta): pikiran
    • cipta : inovasi
  • citra (citra): gambar
  • cuci (śuci): membersihkan
  • cuka (cukra): bahan pengasam
  • cula (cūlā atau cūḍā): tanduk
  • curiga (churikā): mendakwa
  • contdro (condro): bulan
D

  • dadih : air susu sapi, kerbau, dsb. yang pekat yang kental
  • dahaga : haus, perlawanan terhadap pemerintah
  • daksina : selatan
  • dana : uang
  • dasa (daśa): sepuluh
  • dasawarsa (daśawarṣa): dekade, sepuluh tahun
  • delima : tumbuhan Punica Granatum
  • denda (daṇḍa): hukuman
    • dendam (daṇḍa mungkin dari bahasa Tamil): rasa ingin membalas sesuatu yang dialami
  • derita (dhṛta): kesengsaraan
  • desa (deśa): daerah non-urban; daerah administratif terkecil
  • Dewa : Tuhan
    • Dewata : sifat kedewaan
    • Dewi : dewa perempuan
    • Dewayadnya (dewayajña): persembahan atau kurban kepada para Dewata dalam agama Hindu
  • dewadaru : kenikir
  • dewangga : kain yang bergambar indah
  • dewasa : akil balig
  • dharma (dharma): kewajiban dan sebagainya
    • darma : kewajiban
    • derma : sumbangan
  • dirgantara (digantara): langit
  • dirgahayu (dīrghāyuṣa): panjang umur
  • dosa (doṣa): kesalahan
  • duli : kehormatan terhadap raja
  • dupa : kemenyan yang apabila dibakar berbau harum
  • dusta : tidak benar
  • duta (dūta): wakil, caraka
  • dwi : dua
E

  • eka : satu
    • ekabahasa (eka + bhāṣā): monolingual
    • ekamatra
    • ekasila
  • embara (digambara): berkelana
  • erti (artha): arti, makna
G

  • gada
  • gaharu
  • gajah (gaja): suatu hewan besar
  • gala
  • galuh
  • ganda
    • gandapura
    • gandaria
    • gandarusa
    • gandasturi
    • gandasuli
  • gandarwa
  • gandewa (gaṇḍīva): busur, terutama busur sang Arjuna
  • gandola
  • gandi
  • Gangga (gaṅgā): sungai di India dan personifikasinya sebagai Dewi Gangga
  • gangsa
  • gapura
  • garba
  • Garuda (garuḍa): burung mitologis, wahana Dewa Wisnu
  • gatra baris
  • gaya
  • gembala
  • genta
  • gergaji
  • gergasi
  • gerhana
  • giri (giri): gunung
  • gita tembang
  • goni
  • graha (gṛha): rumah, gedung
    • griya: di Bali rumah keluarga brahmana
  • grahita
  • gua
  • gula : pemanis
  • gulana (glāna): rasa gundah
  • gulma
  • guna (guṇa): manfaat
    • gunawan (guṇa + sufiks vant)
  • gurindam pantun yang terdiri dari dua baris,baris pertama sampiran dan baris kedua isi
  • guru (guru): pengajar
  • gustituhan
H

  • harsa (harṣa): sukacita
  • harta (artha): uang, kekayaan material
  • hasta : tangan
  • hatta (ātha): syahdan, maka (kata penghubung)
  • hima : kabut (harafiah salju)
  • Himalaya (himâlaya): nama pegunungan di India, secara harafiah artinya "tempat salju"
  • hina : rendah
I

  • idam
  • indera
    • indria
  • inggu
  • intisari
  • irama (virama): ritma
  • istana (āsthāna): tempat tinggal raja. Lihat astana
  • istimewa (āstām eva): khusus
  • istri (strī): mitra pernikahan wanita
J

  • jaga (jagarti tapi dalam bahasa Prakerta jaga): bangun
  • jagat (jagat): dunia
  • jagat raya (dari jagattraya: "tiga dunia"): alam semesta
  • jaksa (adhyakṣa): sang penuntut dalam mahkamah pengadilan
  • jala (jala): jaring untuk menangkap ikan
  • jambu (jambu): semacam pohon dan buahnya
  • japa (japa): mantra
    • jampi (japa)
  • jana: manusia
  • janda (raṇḍa): seorang wanita yang tidak memiliki suami
  • jantera (yantra): alat yang berputar, roda
  • jasa (yaśa): perbuatan terpuji
  • jati (jāti): sejenis pohon
  • jatmika (adhyātmika): hormat
  • jaya : menang
  • jebad
  • jeladri
  • jelata (janatā): rakyat
  • jelita (lalita): cantik
  • jelma (janma): orang
  • jempana (jampana): pelangkin
  • jenggala (jaṅgala): gurun
  • jenitri (gaṇitrikā): sejenis pohon dan buahnya (elaecorpus ganitrus)
  • jiwa (jīva): roh
  • juita (jīvita): manis
  • jumantara (vyomāntara): langit
  • juta (ayuta): 1.000.000
  • jutawan : sangat kaya
K

  • kabupaten (dari kata bhūpati): wilayah pemerintahan seorang bupati
  • kakawin (dari kata kāvya): sebuah sajak dalam metrum India
  • kala (kāla): waktu
  • kalpataru (kalpataru): pohon kehidupan, pohon kelimpahan
  • kama (kāma): cinta
  • Kamajaya (Kāmajaya): nama lain Dewa Smara atau Dewa Cinta
  • kanji
  • kapas (karpāsa): sejenis bahan
  • karena (kāraṇa): sebab
  • karma (karma): hasil
  • karna (karṇa): telinga
  • karunia (kāruṇya): anugerah
  • karya (karya): buatan
  • kata (katha): satuan kalimat
  • kawi (kāvya): penyair
  • kecapi (kacchapī): alat musik petik
  • keling (Kaliṅga): India bagian selatan
  • keluarga (kulavarga): famili
  • kemala
  • kendala
  • kendi (kuṇḍi atau kuṇḍikā): bejana air
  • kenya (kanyā): gadis
  • kepala (kapāla): bagian tubuh yang teratas
  • keranda
  • kerja (karya): sesuatu yang diperbuat
  • kesatria (kṣatriya): lihat ksatria
  • kesturi (kastūrikā): jebat, musang
  • kesumba
  • ketika
  • kirana (kiraṇa): sinar
  • kokila : sejenis burung
  • kota (kuṭa): benteng, wilayah urban
  • koti (koṭi): 100.000
  • krama : cara, aturan
  • kresnapaksa (kṛṣṇapakṣa): paruh gelap bulan
  • krida (krīḍā): tindakan terpuji
  • ksatria (kṣatriya): kasta kedua, bangsawan, seorang laskar
  • kuasa (dari kata waśa):
  • kulasentana (kulasantāna): suku
  • kulawangsa (kulavaṃśa): klan
  • kunarpa : mayat, bangkai
  • kunci (kuñcikā): menutup
  • kunta
  • kusa
  • kusta
  • kusuma (kuṣuma): bunga
L

  • laba (labha): untung
  • lagu (laghu): nyanyian
  • laksa (lakṣa): 10.000
  • laksana (lakṣaṇa)
  • lengkara
  • lingga (liŋga)
  • logam
  • loka
  • lokakarya
  • lokananta
  • lokapala
  • lintas
M

  • madia (madya): tengah
    • madya
  • madu (madhu): cairan manis produk lebah
    • madukara
  • maha (mahā): besar
  • Maharaja (mahārāja): Kaisar
  • mahkota
  • makara
  • mala
  • malapetaka
  • manah
  • mandala
  • mangsa
  • mangsi
  • manik
  • manikam
  • mantra
  • mantri
  • manusayadnya
  • manusia
  • mara
  • marabahaya
  • marga
  • margasatwa
  • masa
  • materai
  • matra
  • maya :Semu
  • mayapada :bumi
  • mega (megha): awan
  • melati
  • menteri
  • mercapada
  • merdeka :kebebasan
    • mahardika
  • merdu
  • merica
  • merpati
  • mesra
  • mesti
  • mestika
  • mina : ikan
  • mintuna
  • mitra :Teman,rekan
  • moksa (mokṣa): kelepasan dari sengsara
  • muda (mūḍha): tidak tua
  • muka
  • mula
  • mustika
  • mutiara
N

  • nada
  • naga
  • nama (nāma): sebutan atau panggilan
  • nara
  • narapati
  • narapidana
  • nata
  • nawa (sembilan)
  • negara
  • negeri
  • neraca
  • neraka (naraka):
  • netra (netra): mata
  • nila
  • nirmala
  • nirwana (nirvana): stadium kelepasan jiwa
  • niscaya
  • niskala
  • nista
O

  • ojah
P

  • pada
  • padma
    • padmi
    • padam
    • patma
    • fatma
  • pahala
  • paksa
  • paksi (pakṣi): burung
    • peksi
  • paksina
  • pala
  • panca (pañca): lima
  • pancaka
  • pancasila (1) (pañcaśīla): lima kaidah falsafah Buddhis
  • Pancasila (2) (pañcaśīla): ideologi negara Indonesia
  • Pancatantra (pañcatantra): sebuah karya sastra dari India Kuna
  • pandai
  • pandita
  • panitia
  • papa
  • para
  • parameswara
  • parameswari
  • parisada
  • parwa
  • pasca (paścat): setelah
  • pataka
  • patera
  • patih
  • pawaka: api
  • pawana
  • payudara (payodhara): buah dada wanita
  • pedanda
  • pedati
  • pekerti
  • pendapa
  • pendeta
  • penjara
  • perada
  • perbawa
  • percaya
  • perdana
  • peribahasa
  • peristiwa
  • perkara
  • permaisuri
  • permata
  • persada
  • pertama
  • pertiwi
  • perwara
  • petaka
  • pidana
  • pitayadnya
  • prabu
  • prahara
  • prakarsa
  • prakarya
  • prakata
  • prameswari
  • pramugara
  • pramugari
  • pramuria:wanita nakal
  • pramuwisata:pemandu wisata
  • pranala (praṇāla): pautan atau tautan di internet
  • pranata
  • prasangka
  • prasarana
  • prasasti
  • prasetya
  • prawacana
  • pria
  • pribumi:penduduk asli
  • puasa
  • puja
  • pujangga :penyair
  • puji
  • punggawaprajurit
  • pura
  • purba
    • purbakala
  • puri
  • purnama
  • purwa
    • purwarupa: prototipe
  • pusaka
  • puspa
  • puspadanta
  • puspita
  • pustaka
  • putra
  • putri
R

  • raga
  • rahasia
  • raja
  • rajaberana
  • rajah
  • rajalela
  • rajawali
  • raksa
  • raksasa
  • raksasi
  • ramai
  • rasa
  • rasa
  • rasi
  • rata
  • ratna
  • reca
  • rela
  • remaja
  • rencana
  • renjana
  • resi
  • restu
  • Rgweda: kitab suci umat Hindu
  • rona
  • rupa
  • Rupiah (rūpya): mata uang Indonesia
S

  • sabda (sabda): kata, firman
  • sad (ṣaḍ): enam
  • sadaya
  • sahaja (sahaja): sederhana
  • sahaya (sahāya): hamba
  • saka
  • sakala
  • saksi (sakṣi)
  • sakti (śakti): kekuatan supranatural
  • sama
  • samapta
  • samsara (saṃsāra): lahir kembali di dunia, lihat pula sengsara
  • samudra (samudra): laut besar
  • sandi
  • sandiwara
  • sanggama (saṃgama): hubungan seksual
  • sanggamara
  • sangka
  • sangka
  • sangkala
  • sangsi
  • Sansekerta (saṃskṛta): bahasa yang sempurna
    • Sanskerta
    • Sangskerta
    • Sanskrit
  • santri (śāstri): seorang pelajar agama Islam, biasa tinggal di sebuah asrama
    • pesantren
  • santi
  • santika
  • sapta (tujuh)
  • saptadarma
  • saptamarga
  • sarana
  • sari
  • sari
  • saripati
  • sarira
  • sarjana (sajjana): seorang akademikus
  • sasakala
  • sasian
  • sastra
  • satria
  • satru
  • satwa
  • satyalancana
  • satyawacana
  • saudara
  • sayembara (svayambara): kontes
  • seba
  • sederhana (sārdhāna): simpel
  • sedia
  • sediakala
  • sedianya
  • segala
  • segara
  • sejahtera
  • selesma
  • selira
  • seloka (śloka): larik puisi
  • semadi
  • semboyan
  • sementara
  • sempurna
  • semua
  • senantiasa
  • senapati
  • sendawa
  • sendi (sandhi): penghubung
  • sengketa
  • sengsara (saṃsāra): keadaan derita. Lihat pula samsara
  • senjata (sajjita): alat perang
  • sentosa
  • serati
  • seraya
  • serba
  • seribumi
  • serigala
  • sesira
  • setanggi
  • seteru (śatru): musuh
  • setia (satya): loyal
  • siksa
  • sila (śīla): asas
  • singa (siṃha): semacam kucing raksasa
  • singgasana (siṃhâsana): takhta
  • sisa
  • siswa (siṣya): murid
  • sorga (svarga)
  • sri
  • sridanta
  • srikaya
  • stupa
  • su- (su): baik
  • suami
  • suara (svara): bunyi
  • suasana
  • suci (śuci): keramat
  • sudah (suddha): telah
  • sudamala
  • sudara
  • sudi
  • sudra
  • suka
  • sukarela
  • suklapaksa
  • sukma
  • sula
  • sunyata
  • sunyi
  • suralaya
  • surya
  • suryakanta
  • susila
  • sutra
  • sutradara
  • swa-
    • swakarsa
    • swakarya
    • swapraja
    • swasembada
    • swatantra
  • swasta
T

  • tabik
    • tabe
  • tabil
  • tala
  • tani
  • tantra
  • taru
  • taruna
  • tata
    • tata acara
    • tata surya
    • tata bahasa
    • tata busana
    • tata cara
    • tata guna
    • tata krama
    • tata laksana
    • tata nama
    • tata negara
  • tega (tyaga): tidak perduli
  • teja
  • telaga
  • tembaga
  • tentara
  • tepaslira
  • terka
  • tetapi
  • tirta (tirta): air
  • tri (tri): tiga
  • trimatra
  • trimurti
  • trisna
  • trisula (trisula): Tiga ujung. Senjata (semacam tombak) dengan tiga mata yang tajam.
  • triwikrama
  • tuna : Kehilangan (tadinya memiliki menjadi tidak) / tidak memiliki.
    • tunanetra - buta
    • tunarungu - tuli
    • tunawicara - bisu
    • tunadaksa - tidak memiliki tangan dan/atau kaki
    • tunalaras - kelainan perilaku
    • tunagrahita - kelainan mental
    • tunawisma - tidak memiliki rumah
    • tunakarya - pengangguran Tidak memiliki pekerjaan.
    • tunaaksara - buta huruf
    • tunasusila - tindakan amoral
U

  • udara (udara): zat di atmosfer bumi
  • umpama: lihat upama
  • unta (uṣṭra): sejenis hewan yang hidup di gurun pasir
  • upacara
  • upaduta
  • upah
  • upama: contoh
  • upaya (upāya): daya, siasat
  • upeti (utpatti): sesuatu yang harus diberikan kepada pembesar, semacam pajak
  • urna
  • usaha (utsaha)
  • usia (yuṣa): umur
  • utama (uttama): paling unggul
  • utara (uttara): mata angin yang arahnya sebelah kiri terbitnya matahari
V

  • vihara (vihāra): rumah ibadah kaum Buddhis
W

  • wacana (vacana)
  • wahana (vāhana): medium, kendaraan
  • waisak
  • waisya
  • walimana (vimāna): burung mitis
  • waluh
  • -wan (-vant): sebuah imbuhan sufiks yang menyatakan pelaku pria
    • -wati (-vatī): sebuah imbuhan sufiks yang menyatakan pelaku wanita
  • wana: hutan
  • wanara (vaṇara): kera
  • wangsa (vaṃśa): dinasti
  • wanita : perempuan (terhormat)
  • waranggana
  • warga : kaum
  • warna (varṇa): kelir
  • warsa (varṣa): tahun
  • warta (vṛtta): berita
    • warta berita
    • wartawan : jurnalis
  • waruna
  • waspada
  • wati
  • weda : kitab suci
  • wedana
  • werda
  • wesak
  • wibawa
  • wibawa
  • wicara
  • widara
  • widya : pengetahuan, ilmu atau pembelajaran
  • widyakarya
  • widyawisata
  • wihara
  • wijaya
  • wiku
  • wimana
  • windu
  • wira
  • wiracarita : epos
  • wirama
  • wiraswasta
  • wirawan
  • wisata
    • wisatawan
  • wisaya
  • wisma : rumah
  • wisuda
  • wiwaha (vivāha): pernikahan besar
  • wiyaga : burung
  • wiyatabhakti
  • wredatama
Y

  • Yajurweda (yajurveda): salah satu dari kitab Catur Weda
  • yantra (yantra): alat. Lihat pula jentera
  • yayasan (berdasarkan yaśa): lembaga. Lihat pula jasa.
  • yoga (yoga): bentuk tapa-samadi
  • yogi (yogin): seseorang yang beryoga
  • yoni (yoni): rahim, vagina, alas lingga
  • yogya (yogya): sesuai tatakrama
  • yojana (yojana): ukuran, jarak kurang lebih 15 kilometer
  • yuda (yuddha): perang
Angka

  1. eka
  2. dwi, dwaya
  3. tri, traya
  4. catur
  5. panca
  6. sad
  7. sapta
  8. ashta
  9. nawa
  10. dsa
  11. ekadasa
  12. dwadasa/dwidasa
  13. trayodasa
  14. caturdasa
  15. pancadasa
  16. sodasa
  17. saptadasa
  18. asthadasa (contoh: Astadasaparwa)
  19. nawadasa
  20. wingsati
  21. ekawingsati
  22. dwawingsati
  23. trayowingsati
  • 30. trinisat
  • 32. dwitrinisat
  • 33. tritrinisat
  • 34. cattrinisat
  • 40. catwaringsat
  • 50. pancasat
  • 60. sasti
  • 70. saptati
  • 80. asiti
  • 90. nawati
  • 100. sata
  • 102. dwisata
  • 200. dwisatani
  • 202. dwidwisatani
  • 913. trayodasa nawasatani
  • 1.000. sahasra, sasra, saharsa
  • 5.000. pancasahasrani
  • 7.423. trayowingsati catursatani saptasahasrani
  • 10.000. laksa
  • 100.000. kethi
  • 1.000.000. yuta
  • 100.000.000. arwuda
Referensi

  • (Inggris) Jan Gonda, 1952, Sanskrit in Indonesia, New Delhi: International Academy of Indian Culture.
  • (Inggris) Johannes Gijsbertus de Casparis, 1997, Sanskrit loan-words in Indonesian: An annotated check-list of words from Sanskrit in Indonesian and Traditional Malay, Jakarta: Badan Penyelenggara Seri NUSA, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
  • (Indonesia) Professor Dr. Mukunda Madhava Sharma M.A., Ph. D., D. Litt., Kavyatirtha, 1985,Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia. Denpasar: Wyāsa Sanggraha.
  • (Inggris) Sir Monier Monier-Williams, 1899, A Sanskrit - English Dictionary. Oxford
  • (Indonesia) Edi Sedyawati, Ellya Iswati, Kusparyati Boedhijono, dan Dyah Widjajanti D., 1994,Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • (Indonesia) P.J. Zoetmulder, 1995, Kamus Jawa Kuna - Indonesia, Jakarta: Gramedia
  • (Indonesia) Sutanto, 1989, Dwidasa = 12Intisari Mei 1989, Jakarta: Yayasan Intisari
  • (Inggris) Jan Gonda, 1952, Sanskrit in Indonesia, New Delhi: International Academy of Indian Culture.
  • (Inggris) Johannes Gijsbertus de Casparis, 1997, Sanskrit loan-words in Indonesian: An annotated check-list of words from Sanskrit in Indonesian and Traditional Malay, Jakarta: Badan Penyelenggara Seri NUSA, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
  • (Indonesia) Professor Dr. Mukunda Madhava Sharma M.A., Ph.D., D. Litt., Kavyatirtha, 1985,Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia. Denpasar: Wyāsa Sanggraha.
  • (Indonesia) Edi Sedyawati, Ellya Iswati, Kusparyati Boedhijono, dan Dyah Widjajanti D., 1994,Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sumber: http://wwwlastmanstanding.blogspot.com/2011/10/dari-bahasa-sanskerta-ke-bahasa-melayu.html

 
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar di

  Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009: 56), arkais berarti 1) berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; 2) tidak lazim dipakai lagi (tentang kata). Beberapa pengarang cerpen kontemporer, seperti Benny Arnas dan Guntur Alam, sering menggunakan kata-kata arkais dalam karya mereka. Penggunaan kata-kata arkais ini, terutama dalam karya sastra, setidaknya menghidupkan dan mengenalkan kembali kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Dalam kalimat "Lelaki yang kepalanya dipenuhi api itu ingin sekali mengasam pemuda yang merengap tak keruan di depan hidungnya." Terdapat kata arkais, yaitu “mengasam” dan “merengap”.

Kata "mengasam" dan "merengap" merupakan kata yang jarang sekali digunakan, baik dalam karya sastra kontemporer mau pun ragam bahasa resmi. Kata "mengasam" berasal dari bentuk dasar "kasam" yang berarti membalas dendam sedangkan "merengap" memiliki arti mengap-mengap; mengah-mengah (lelah dan sebagainya).

Cermati pula penggunaan kata-kata arkais dalam cuplikan cerpen berikut. “Malam yang tak biasa. Aku menghidu aroma yang tak biasa. Aroma yang membuat diriku dicekam rasa takut yang tak biasa. Giris. Di kejauhan suara burung malam bergaok-gaok, bersahut-sahutan. Sungguh tak biasa. Bungkas sudah nyaliku. Ciut.”

Berikut ini kata-kata arkais yang diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

A

ahkam = hukum, undang-undang

anggara = buas; liar

anju = 1. percobaan hendak melangkah, melompat, dsb.; ancang-ancang; 2. maksud; tujuan.

B

bad = angin

bagul = menggendong; mendukung

bahalan = bengkak bernanah pada selangkangan

balabad = 1. atas angin; 2. angin darat; angin pegunungan

banang = besar pada jenisnya

bedegap = kuat; tegap

begu = hantu hutan

belabas = kain sutra berbenang emas

belangah = terbuka lebar-lebar; ternganga; menganga

belu belai = 1. banyak mulut; cerewet 2. kata-kata lembut dan manis

bembarap = tandu untuk mengangkat orang

bengah = 1. dalam keadaan duduk dengan menegakkan badan dan kepala; 2. sombong; angkuh; pongah

benyai = terlalu lembek; terlalu lunak (seperti nasi yang terlalu banyak airnya)

berenggil = menonjol (tersembul) ke luar (seperti mata kepiting, biji jambu monyet)

berus/memberus = sikat/menyikat

bocok = kelambu penutup buaian bayi

bokoh = lemah; lembik

bungar = pertama kali keluar (tentang telur, buah, bunga, dan sebagainya)

buar= suka menghamburkan uang; boros; royal

bungkas = terjungkit pada ujungnya atau pada pangkalnya

boyas = buncit; gendut

bungsil = putik nyiur; mumbang

buntal = gembung; buncit

buldan = negeri; kota

bujut = kusut (benang, rambut, dan sebagainya)

C

cabar = 1. hilang dayanya; tidak manjur (tentang guna-guna dsb.); 2. tawar otentang hati, keberanian) 3. kurang ingatan; lalai; lengah; 4. kurang (tidak) hemat

cacil = amat kecil (jika dibandingkan dengan pasangannya atau yang lainnya)

caduk (mencaduk) = mengangkat atau menaikkan (kepala, ujung belalai, dsb.)

cagut (mencagut) = memagut; mencatuk; mematik

caring (mencaring)= melanggar (hak)

celapak (mencelapaki) = mengangkangi

celih = malas-malas; segan-segan

celuk = 1. memasukkan tangan untuk mengambil sesuatu; 2. mencopet; mencuri

cempelik = permainan judi dengan dua keping mata uang yang dilemparkan ke atas

cempera (bercempera) = pecah belah; berhamburan; bercerai-berai

cempiang = pendekar; jagoan

cengis = berbau sangat sangit

cerabih (mencerabih) = bercakap-cakap tidak keruan; banyak omong; berseloroh

ceratai (mencerataikan) = meceritakan (mempercakapkan dengan ramai

cerling = melihat ke sebelah kanan atau kiri; menjeling; mengerling

cerut = mebelit (mengikat dsb.) erat-erat (seperti ular besar membelit mangsanya)

cetai (bercetai-cetai) = robek panjang di beberapa tempat (tentang kain dsb.); cabik-cabik; koyak-koyak;

cicik = jijik

cilap = kelip; kedip

cogok (tercogok) = tertegak; terconggok

cola cala = bercakap (bercerita) yang bukan-bukan; beromong kosong; membual

colang-caling = tidak teratur; tidak keruan;

comor = kotor sekali

D

daduk (mendaduk) = mengemis

damal = maju perlahan-lahan (tentang kapal)

dangkar (mendangkar) = menggulung

dawat = tinta

dayus = hina budi pekertinya

dedar = berasa panas (tentang badan)

dedau = berteriak (menjerit) nyaring-nyaring

demap = rakus

derana = tahan dan tabah menderita sesuatu (tidak lekas patah hati, putus asa, dsb.)

dergama = fitnah

E

embal = belum kering benar, lembab

empul = terkatung-katung tidak dapat maju (tentang perahu)

erot (mengerotkan) = memencongkan (mulut)

G

gerbas-gerbus = berbunyi berdesau-desau

geracak = berbunyi seperti air menggelegak

giris = ketakutan; sangat takut

goak, bergoak-goak = berteriak keras-keras, berkoar-koar

gumbuk, menggumbuk = membujuk

H

hamun = caci maki yang sangat kasar; sumpah serapah

hidu (menghidu) = mencium (bau), membaui

hembalang, berhembalang = berguling-guling; pontang panting

I

ikhbar = penyampaian berita, pengabaran

ili, mengili = menyelamatkan diri ke tempat yang aman; mengungsi

inca = kacau

inca-binca = kacau balau

incit = enyahlah, pergilah

mengincitkan = mengusir, mengenyahkan, menghalau

J

jamadat = benda padat yang tidak bernyawa, seperti batu, kayu

jampuk, menjampuk = memotong (menyela) pembicaraan orang

jamung = suluh yang dibuat dari daun nyiur kering ; obor

jangak = tidak senonoh tingkah lakunya, risau; cabul

jangkih-mangkih = tidak keruan atau tidak teratur; terserak-serak; jongkang-jangking

jelabak, terjelabak = roboh; runtuh

jelanak, menjelanak = menyelinap (menyuruk, merayap) di bawah dedaunan dsb.

jelangak, menjelangak = mendongak

jelau, menjelau = menjenguk

jendera = nyenyak (tentang tidur); lena

jengking, menjengking = menungging

jerangkah = bercabang-cabang

jujut, menjujut = menarik (tali dsb.)

K

kabir, mengabir = meraih, mengayuh dengan satu pengayuh

kadera = 1. kursi; 2. tandu; usungan

kaftan = baju panjang

kalakian = ketika itu; lalu; kemudian

kalar = leher baju

kanjal = terhenti karena terhalang dsb.

karut, berkarut = kusut; kacau tidak keruan

karut-marut = 1. kusut (kacau) tidak keruan; rusuh dan bingung (tentang pikiran, hati, dsb.); banyak bohong dan dustanya (tentang perkataan dsb.); 2. berkerut-kerut tidak keruan (tentang muka, wajah, dsb.)

mengarut = mengusutkan; mengacaukan; membuat rusuh tidak keruan; 2. berkata tidak keruan; berbohong

kasam = dendam kesumat

mengasam = membalas dendam

katah, terkatah-katah = terguling-guling; terpelanting

kayai, mengayaikan = menguatkan diri untuk berdiri

kecumik = mulut yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara

berkecumik = berkomat-kamit

kedau, mengedau = berteriak (minta tolong dsb.)

kekas, mengekas = mengais (tentang ayam)

kelambur = berkerut-kerut; kisut

keranta = kutu yang tampak pada tubuh orang yang (akan) mati

keriau, berkeriau = berteriak; memekik-mekik

kesut, terkesut-kesut = susah dan ketakutan

kincau, mengincau = mengaduk; mencampur

kinjat, terkinjat = terloncat; tersentak; terperanjat

kipai, mengipaikan = mengibas-ngibaskan (ekor)

kusat-mesat = sangat kusut

 
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar 


Penulisan bagian-bagian surat resmi sebagai berikut.

A.   Kepala Surat

Kepala surat yang lengkap terdiri atas a. nama instansi, b. alamat lengkap, c. nomor telepon, d. nomor kotak pos, e. alamat kawat, dan f. lambang atau logo.

Nama instansi ditulis dengan huruf kapital. Alamat instansi, termasuk di dalamnya telepon, kotak pos, dan alamat kawat (jika ada) ditulis dengan huruf awal kata kapital, kecuali kata unggas. Nomor kode pos ditulis setelah nama kota tempat instansi itu berada.

Contoh:

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun

Jakarta 13220

Kotak Pos 2625 Telepon 4896558, 4894564, 4894584

Kepala surat dapat pula seluruhnya ditulis dengan huruf kapital, seperti dapat dilihat pada contoh berikut.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA

JALAN DAKSINAPATI BARAT IV, RAWAMANGUN

JAKARTA 13220

KOTAK POS 2625 TELEPON 4896558, 4894564, 4894584

Dalam penulisan kepala surat hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Nama instansi jangan disingkat, misalnya Biro Diklat, Depdikbud, Badan Bimas, tetapi Biro Pendidikan dan Pelatihan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Bimbingan Masyarakat.
  2. Kata jalan jangan disingkat menjadi Jln. Atau Jl, tetapi Jalan.
  3. Kata  telepon hendaknya ditulis dengan cermat, yaitu Telepon, bukan Tilpun atau Telpun dan jangan pula disingkat menjadi Tlp., Tilp., atau Telp.
  4. Kata kotak pos hendaklah ditulis dengan cermat, yaitu Kotak Pos dan jangan disingkat K. Pos atauKotpos. Demikian pula, jangan digunakan  P.O. Box atau Post Office Box.
  5. Kata alamat kawat hendaklah ditulis dengan cermat, yaitu Alamat Kawat dan jangan digunakan Cable Address.
  6. Kata telepon dan kotak pos diikuti oleh nomor tanpa diantarai tanda titik dua (:), sedangkan nomor-nomor yang mengikutinya tidak diberi titik pada setiap hitungan tiga angka karena bukan merupakan suatu jumlah.
Contoh:

  • Telepon: 489.655.8
  • Kotak Pos: 265.5
Seharusnya:

  • Telepon 4896558
  • Kotak Pos 2655
 

B.   Tanggal

Tanggal surat ditulis secara lengkap, yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota karena nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat. Setelah angka tahun tidak diikuti tanda baca apa pun, seperti tanda titik, titik koma, titik dan garis hubung. Selain itu, perlu diperhatikan hal berikut.

  1. Nama bulan jangan ditulis dengan angka, tetapi dengan  huruf. Nama bulan yang ditulis dengan huruf tidak boleh disingkat, misalnya JanuariFebruariAgustus, atau November, bukan Jan., Feb., Agt., atau Nov.
  2. Nama bulan hendaklah ditulis dengan cermat, misalnya FebruariNovember, bukan Pebruari,Nopember.
Contoh penulisan tanggal surat:

KEPALA SURAT

  22 Mei 2008

C.   Nomor, Lampiran, dan Hal

Kata nomor, lampiran, dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital, Nomor, Lampiran, dan Hal dengan diikuti oleh tanda titik dua yang ditulis secara estetik ke bawah sesuai dengan panjang pendeknya ketiga kata itu.

Penulisan kata Nomor dan Lampiran yang dapat disingkat menjadi No. dan Lamp. harus taat asas. Jika kata nomor ditulis lengkap, kata lampiran pun ditulis lengkap. Jika kata nomor disingkat menjadi No., kata lampiran juga harus disingkat menjadi Lamp.

Kata Nomor diikuti oleh nomor berdasarkan nomor urut surat dengan kode yang berlaku pada instansi pengiriman surat. Nomor surat dan kode yang dibatasi garis miring ditulis rapat tanpa spasi dan tidak diakhiri tanda titik atau tanda hubung.

Penulisan nomor dan kode surat yang benar sebagai berikut.

1.   Nomor: 110/U/PPHPBI/2003

2.   No.: 110/U/PPHPBI/2003

Penulisan nomor dan kode surat tidak harus dibatasi garis miring, tetapi dapat pula dibatasi tanda titik atau tanda hubung. Demikian pula, isi kode surat tidak harus dengan huruf, tetapi dapat pula dengan angka. Misalnya:

1.   Nomor: 10.10.3.03.90 atau

2.   Nomor: 10-10-3-03-90

Kata Lampiran ditulis di bawah nomor jika ada yang dilampirkan pada surat. Jika tidak ada yang dilampirkan, kata Lampiran tidak perlu ditulis. Kata Lampiran atau Lamp. diikuti tanda titik dua disertai jumlah barang yang dilampirkan. Jumlah barang ditulis dengan huruf, tidak dengan angka dan tidak diakhiri dengan tanda baca lain. Pada awal kata yang menyatakan jumlah ditulis dengan huruf kapital.

Contoh penulisan lampiran yang dianjurkan:

1.   Lampiran: Satu berkas

2.   Lamp.: Satu berkas

Kata Hal diikuti tanda titik dua disertai pokok surat yang diawali dengan huruf kapital tanpa diberi garis bawah dan tidak diakhiri tanda titik atau tanda baca lain. Pokok surat hendaklah dapat menggambarkan pesan yang ada dalam isi surat.

Penulisan hal yang dianjurkan:

1.  Hal: Permohonan tenaga pengajar

2.  Hal: Penyeragaman bentuk surat

 

 

D.   Alamat Surat

Dalam penulisan alamat surat terdapat dua macam bentuk. Bentuk yang pertama adalah alamat yang ditulis di sebelah kanan atas di bawah tanggal surat dan bentuk yang kedua adalah alamat yang ditulis di sebelah kiri atas di bawah bagian Hal atau sebelum salam pembuka.

Penulisan alamat surat di sebelah kiri atas itu lebih menguntungkan daripada di sebelah kanan atas karena kemungkinan pemenggalan tidak sehingga alamat yang panjang pun dapat dituliskan.

Untuk penulisan alamat surat perlu diperhatikan hal berikut.

  1. Penulisan nama penerima harus cermat dan lengkap, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh yang bersangkutan (pemilik nama).
  2. Nama diri penerima surat diawali huruf kapital pada setiap unsurnya, bukan menggunakan huruf kapital seluruhnya.
  3. Penulisan alamat penerima surat juga harus cermat dan lengkap serta informatif.
  4. Untuk menyatakan yang terhormat pada awal nama penerima surat cukup dituliskan Yth. Dengan huruf awal huruf kapital disertai tanda titik singkatan itu. Penggunaan kata kepada sebelum Yth. tidak diperlukan karena kata kepada berfungsi sebagai penghubung antarbagian kalimat yang menyatakan arah. Apalagi kalau diingat bahwa alamat pengirim tidak didahului kata dari yang berfungsi sebagai penghubung antarbagian kalimat yang menyatakan asal.
  5. Kata sapaan seperti ibu, bapak, saudara digunakan pada alamat surat sebelum nama penerima surat. Jika digunakan kata pada awal penerima, kata itu hendaknya ditulis penuh, yaitu Bapak, dengan huruf awal huruf kapital dan tanpa tanda titik atau tanda baca apa pun pada akhir kata itu. Kata saudara cukup ditulis Sdr. dengan huruf awal huruf kapital dengan tanda titik pada akhir singkatan itu. Kata ibu hendaklah ditulis penuh Ibu dengan huruf kapital tanpa tanda titik atau tanda baca apa pun pada akhir kata itu.
  6. Jika nama orang yang dituju bergelar akademik sebelum namanya, seperti Dr. dr. Ir. atau Drs. atau memiliki pangkat, seperti kapten atau kolonel kata sapaan Ibu, Bapak, dan Sdr. tidak digunakan.
  7. Jika yang dituju nama jabatan seseorang, kata sapaan tidak digunakan agar tidak berimpit dengan gelar, pangkat, atau jabatan.
  8. Kata jalan pada alamat surat tidak disingkat, tetapi ditulis penuh, yaitu Jalan, dengan jalan atau gang, nomor, RT, dan RW ditulis lengkap dengan huruf awal huruf kapital setiap unsur alamat. Nama kota atau wilayah perlu nama propinsi, tidak ditulis dengan huruf kapital semua, tetapi ditulis dengan huruf awal huruf kapital dan tidak digarisbawahi serta tidak diakhiri tanda baca apa pun, seperti tanda titik dan tanda hubung.
  9. Nama alamat yang dituju hendaklah nama orang yang disertai nama jabatannya, atau nama jabatannya saja dan bukan nama instansinya.
Contoh penulisan alamat yang dianjurkan.

Yth. Bapak Sukoco

Kepala Biro Tata Usaha

Departemen A

Jalan Sarlitan Raya 17

Jakarta

E.   Penulisan Salam

Dalam penulisan surat terdapat dua buah salam, yaitu  salam pembuka, dan  salam penutup. Penulisan kedua bentuk salam itu merupakan awal dalam berkomunikasi antara penulis surat dan penerima surat.

Salam pembuka lazim ditulis di sebelah kiri di bawah alamat surat, di atas kalimat pembuka isi surat. Salam penutup lazim ditulis di sebelah kanan bawah.

Salam pembuka yang sangat lazim digunakan adalah ungkapan dengan hormat dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Huruf pertama kata dengan pada ungkapan salam itu ditulis dengan huruf kapital (Dengan).
  2. Huruf pertama kata hormat pada ungkapan salam itu ditulis dengan huruf kecil, bukan huruf kapital (hormat).
  3. Pada akhir ungkapan salam pembuka itu dibubuhkan tanda koma, bukan tanda titik, tanda seru, atau titik dua (Dengan hormat,).
Ungkapan lain yang digunakan sebagai salam pembuka sebagai berikut.

  1. Salam sejahtera,
  2. Saudara…,
  3. 3Saudara … yang terhormat,
  4. Ibu … yang terhormat,
  5. Bapak … yang terhormat,
Di samping itu, terdapat salam pembuka yang bersifat khusus, seperti sebagai berikut.

  1. Assalamualaikum W.W.,
  2. Salam Pramuka,
  3. Salam perjuangan,
  4. Merdeka,.
Penulisan ungkapan salam pembuka yang tidak cermat adalah Dengan Hormat; Salam Sejahtera; Saudara Tuti yang Terhormat. Penulisan ungkapan salam pembuka yang cermat sebagai berikut.

  1. Dengan hormat,
  2. Salam sejahtera,
  3. Saudara Tuti yang terhormat,
Salam penutup yang lazim digunakan adalah ungkapan hormat kami, hormat saya, salam takzim, dan wasalam dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Hurup pertama kata hormat, salam, dan wasalam ditulis dengan hurup kapital.
  2. Pada akhir salam penutup dibubuhkan tanda koma, bukan tanda titik atau tanda baca lain, atau tanda apa-apa.
Penulisan ungkapan salam penutup yang cermat sebagai berikut.

  1. Hormat saya,
  2. Hormat kami,
  3. Salam takzim,
  4. Wasalam,
F. Isi Surat

Secara garis besar isi surat terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian pertama merupakan paragraf pembuka, bagian kedua merupakan paragraf isi dan bagian ketiga merupakan paragraf penutup.

Paragraf pembuka mengantarkan isi surat yang akan diberitahukan. Paragraf pembuka berisikan pemberitahuan, pertanyaan, pernyataan, atau permintaan.

Contoh:

  1. Kami ingin memberitahukan kepada Saudara bahwa….
  2. Salah satu kegiatan Proyek Penelitian adalah meneliti sastra lisan Sunda. Sehubungan dengan itu,
  3. Pada tanggal 14-18 Juli 1990 kami akan mengadakan Penataran Kebahasan I. Tujuan penataran itu sebagai berikut.
  4. Himpunan Pembina Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan Seminar Pengajaran Bahasa Indonesia, pada tanggal 5-6 November 1978, di Wisma Samudra, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta.
  5. Dalam salah sebuah media massa terbitan Jakarta, kami telah membaca bahwa rumput laut telah dibudidayakan. Sehubungan dengan itu, kami ingin mendapatkan informasi tentang perbudidayaan rumput laut itu.
Di samping itu, paragraf pembuka berisi balasan (jawaban) seperti dalam contoh berikut.

  1. Pertanyaan Saudara yang tertera pada surat Saudara tanggal 10 Januari 1986, No. 05/Diklat/1/I/1986 akan kami jawab sebagai berikut.
  2. Surat Anda telah kami terima. Sehubungan dengan itu, kami ingin memberitahukan hal berikut. “Sesuai dengan permintaan Saudara dalam surat tanggal 4 Januari 1989, No. 29/H/PU/1989, bersama ini kami kirimkan seberkas surat perjanjian kerja.”
Dalam paragraf isi dikemukakan hal yang perlu disampaikan kepada penerima surat. Namun, isi surat harus singkat, lugas, dan jelas.

 

G.  Salam Penutup

Paragraf penutup merupakan simpulan dan kunci isi surat. Di samping itu, paragraf penutup dapat mengandung harapan penulis surat atau berisi ucapan terima kasih kepada penerima surat.

Contoh paragraf penutup sebagai berikut.

  1. Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
  2. Atas perhatian dan kerja sama Saudara yang baik selama ini, kami ucapkan terima kasih.
  3. Besar harapan kami, Saudara dapat memanfaatkan sumbangan kami.
  4. Mudah-mudahan jawaban kami dapat memuaskan Saudara.
 

H.   Nama Pengirim

Nama pengirim surat ditulis di bawah tanda salam penutup. Tanda tangan diperlukan sebagai keabsahan surat dinas. Dalam penulisan nama pengirim perlu diperhatikan hal berikut.

  1. Penulisan nama tidak perlu menggunakan huruf kapital seluruhnya, tetapi menggunakan huruf awal huruf  kapital pada setiap unsur nama.
  2. Nama tidak perlu ditulis di dalam kurung, tidak perlu bergaris bawah dan tidak perlu diakhiri dengan tanda titik.
  3. Nama jabatan dapat dicantumkan di bawah nama pengirim.
I.   Tembusan Surat

Kata tembusan yang ditulis dengan huruf awal kapital (Tembusan) diletakkan di sebelah kiri pada bagian kaki surat, lurus dengan bagian nomor dan hal, serta sejajar dengan nama pengirm surat. Tulisan Tembusan diikuti tanda titik dua, tanpa digarisbawahi. Bagian ini hanya dicantumkan jika surat itu memerlukan tembusan untuk beberapa instansi atau pihak lain yang ada hubungannya dengan surat yang bersangkutan. Ketentuan isi tembusan itu  sebagai berikut.

  1. Jika pihak diberi tembusan itu lebih dari satu, diberi nomor urut sesuai dengan jenjang jabatan pada instansi itu. Jika pihak yang diberi tembusan hanya satu, tidak diberi nomor.
  2. Pihak yang diberi tembusan hendaklah nama jabatan atau nama orang dan bukan nama kantor atau instansi.
  3. Dalam tembusan tidak perlu digunakan ungkapan Kepada Yth. atau Yth.
  4. Di belakang nama yang diberi tembusan tidak perlu diberi ungkapan untuk perhatian, untuk menjadi perhatian, sebagai laporan, atau ungkapan lain yang mengikat.
  5. Dalam tembusan tidak perlu dicantumkan tulisan Arsip atau Pertinggal karena setiap surat dinas itu harus memiliki arsip.
Contoh:                                 

Tembusan:

  1. Direktur Pemilihan Bahan
  2. Kepala Bagian Perlengkapan
  3. Dra. Sabaindah
J.   Inisial (Sandi)

Inisial (sandi) ditempatkan pada bagian paling bawah sebelah kiri di bawah tembusan (kalau ada). Inisial merupakan tanda pengenal yang berupa singkatan nama pengonsep dan pengetik surat. Inisial berguna untuk keperluan selingkung surat untuk mengetahui siapa pengonsep dan pengetik surat.

Contoh:

- HA/SS

   HA singkatan nama pengonsep: Hidayah Asmuni

   SS Singkatan nama pengetik: Sandi Susatio

Sumber: Depdiknas. 2004.

 
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar


Kalimat "Susu minum adik" merupakan kalimat yang tidak logis dan sangat mudah diidentifikasi ketidaklogisannya. Menurut nalar dan realitas sehari-hari, tidak mungkin dan tidak ada susu yang bisa minum adik. Suatu kalimat dianggap logis apabila kalimat itu mengandung makna yang diterima akal sehat.

Dalam komunikasi lisan maupun tulisan, kasus-kasus ketidaklogisan kalimat cukup banyak kita temukan bahkan karena sudah terlalu sering, ketidaklogisannya itu menjadi tidak tampak. Perhatikan beberapa contoh kalimat tidak logis berikut.

1. Pak Uum mengajar bahasa Indonesia di sekolah kami.

2. Bersama surat ini saya beritahukan bahwa saya tidak bisa menghadiri rapat nanti. 


3. Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup.

  Ketiga contoh kalimat tidak logis tersebut disebabkan pemilihan kata "mengajar", "bersama", dan "dipelajarkan" yang kurang tepat.




================
Pak Uum mengajar bahasa Indonesia di sekolah kami.

Konstruksi kalimat tersebut pernah dibahas Pak Uum Gatot Karyanto. Kalimat tersebut tidak logis karena penggunaan kata turunan "mengajar" yang tidak tepat. Perbaikan terhadap kalimat tersebut adalah dengan cara mengganti kata "mengajar" dengan kata "mengajarkan" atau "mengajari".

Jadi, perbaikannya sebagai berikut.

1. Pak Uum mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah kami.

2. Pak Uum mengajari kami bahasa Indonesia. 

====================

Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup.

Kalimat tersebut tidak logis karena penggunaan kata "dipelajarkan" yang tidak tepat. Agar logis, kata "dipelajarkan" harus diganti dengan "diajarkan" atau "dipelajari". 


====================

Letak ketidaklogisan kalimat "Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup" adalah seolah-olah 'berbagai kecakapan hidup' itu dijadikan 'pelajar'. Wah, pada kalimat (1) saya mendapat kehormatan menjadi pemeran utama, nih. Lumayan untuk menaikkan rating dan honor pada kontrak-kontrak berikutnya. 

======================


 
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar 

1.   Pengertian Penanda Retorik Paragraf

Leech dalam Geoffrey (Tarigan, 1993:22) mengemukakan, retorik adalah kajian mengenai pemakaian bahasa secara efektif di dalam komunikasi maupun dalam keterampilan menggunakan bahasa baik dalam lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang sudah ada ketentuannya. Penanda retorik paragraf adalah penanda-penanda yang berupa kalimat-kalimat yang saling berhubungan yang berfungsi untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam suatu paragraf (Ramlan, 1993:11).

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penanda retorik paragraf merupakan penanda-penanda yang berupa kalimat-kalimat yang saling berhubungan yang berfungsi sebagai penghubung antarkalimat dalam suatu paragraf, yang digunakan dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lengkap penanda retorik ada lima macam sebagai berikut.

`

a.   Penanda Penunjukkan

  Menurut Chaer (2006:376), penanda penunjukkan adalah isi kalimat yang satu diulang kembali pada kalimat lain. Ramlan (1993:12) mengemukakan bahwa penanda penunjukkan adalah penggunaan kata atau frase untuk menunjuk atau mengacu kata, frase, atau mungkin saja satuan gramatikal yang lain. Arifin dan Junaiyah (2008:87) menyebut penanda penunjukkan dengan istilah hubungan pengacuan (reference) yang artinya kata atau frase yang digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada kata, frase, atau klausa lain. Menurut Ramlan (1993:13) penanda penunjukan terdiri dari:

1)  Penanda penunjukkan itu

Contoh:          

Setiap hari komputer mencatat ribuan nama, alamat, nomor telepon dan sisa pembelanjaan uangnya. Nama-nama itu dimasukkan ke komputer lain yang segera bekerja meneleponi mereka (Ramlan, 1993:13).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penunjukkan itu digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada frase ribuan nama, alamat, nomor telepon dan sisa pembelanjaan uangnya.



2)  Penanda penunjukkan ini

Contoh:          

Kita perhatikan kalimat ini. Semua usahanya gagal. Karena itu ia sangat sedih (Ramlan, 1993:13).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penunjukkan ini digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada kata kalimat.



3)   Penanda penunjukkan tersebut

Kata tersebut berarti sudah disebut. Oleh karena itu, kata itu sering diikuti oleh frase di atas, di atas ini, di bawah, di bawah ini, dan menjadi tersebut di atas, tersebut di atas ini, tersebut di bawah, tersebut di bawah ini.

 Contoh:          

Dari tanggal 23 sampai dengan 30 Juli 2004 di Fakultas Seni Rupa dan Desain diadakan pameran seni rupa untuk menyambut Dies Natalis ISI yang kedua. Mahasiswa-mahasiswa yang telah mencapai semester VI ke atas diharapkan mengikuti pameran tersebut (Ramlan, 1993:13).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penunjukkan tersebut digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada kalimat pameran seni rupa untuk menyambut Dies Natalis ISI yang kedua.



4)   Penanda penunjukkan berikut

Kata berikut menunjuk ke belakang, kadang-kadang diikuti kata ini dan menjadi berikut ini.

Contoh:          

Mengenai proses pembuatan kain tenun akan dipaparkan pada bab-bab berikut. Bab I Pendahuluan, Ban II Persiapan Menenun, Bab III Proses Pembuatan Kain Tenun, Bab IV Penutup (Ramlan, 1993:13).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penunjukkan berikut digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada kalimat Bab I Pendahuluan, Ban II Persiapan Menenun, Bab III Proses Pembuatan Kain Tenun, Bab IV Penutup.



5)   Penanda penunjukkan tadi

Di samping sebagai keterangan waktu, kata tadi terutama dalam ragam bahasa percakapan dapat digunakan sebagai penanda penunjukkan secara eksoforik atau hubungan yang berada di luar teks.

Contoh:          

Di suatu rumah makan Ahmad bertanya kepada temannya, Andi, “Orang tadi siapa?”.

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penunjukkan tadi digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada orang yang datang menemui Andi.

b.   Penanda Penggantian

Menurut Ramlan (1993:17), penanda hubung penggantian adalah penanda hubung kalimat yang berupa kata, atau frase yang menggantikan kata, frase, atau mungkin juga satuan gramatikal yang lain. Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:93-94) penanda penggantian ditandai oleh kata atau frasa yang menggantikan kata, frasa, atau mungkin juga satuan gramatikal lain yang terdapat sebelum sesuatu yang digantikan atau terdapat sesudah sesuatu yang digantikannya. Macam-macam penanda penggantian sebagai berikut.

1)  Kata ganti persona sebagai penanda hubungan penggantian

Kata ganti persona pertama yaitu aku, saya, kami, kita serta kata ganti persona kedua yaitu engkau, kamu, anda beserta bentuk klitik nya, ku, kau, dan mu (Ramlan, 1993:18).

Contoh:

 “Besok pagi saya disuruh ibu ke Jakarta. Dapatkah kamu menemani saya?” kata Ahmad kepada teman-temannya.

“Maaf Mad, aku sedang banyak pekerjaan. Tugasku membuat makalah untuk seminar belum selesai,” jawab temannya (Ramlan, 1993:18).

 Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penggantian berupa kata ganti persona kamu digunakan untuk menggantikan kata teman-temannya, penanda penggantian berupa kata ganti persona –ku pada kata tugasku digunakan untuk menggantikan kata aku, dan penanda penggantian berupa kata ganti persona –nya pada kata temannya digunakan untuk menggantikan frase teman Ahmad.

2)  Kata itu dan ini sebagai penanda hubungan penggantian

Pada penanda penunjukkan telah dibicarakan bahwa kata itu dan ini dapat juga dipakai sebagai penanda penggantian yakni menggantikan kata frase atau mungkin satuan gramatikal lainnya baik dalam hubungan endoforik maupun eksoforik (Ramlan, 1993:21).

Contoh:          

Untuk memerangi rasa bosan itu aku pernah mengikuti les tari. Akan tetapi, itupun hanya bertahan selama enam bulan  (Ramlan, 1993:21).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penggantian berupa kata itu digunakan untuk menggantikan frase les tari.



3)  Kata sana, sini, dan situ sebagai penanda hubungan penggantian

Ketiga kata di atas termasuk golongan kata ganti tempat. Kata sana menggantikan tempat yang jauh dari pembicaraan dan lawan bicara. Kata sini menggantikan tempat yang dekat pembicara dan lawan bicara, dan kata situ menggantikan tempat yang dekat dengan lawan bicara (Ramlan, 1993:22).

Contoh:          

Untuk tahun 2005 ini ada sekitar 2570 santriwati yang menuntut ilmu di sini. Sementara jumlah guru di sini sekitar 350 orang yang sebagian besarnya adalah wanita (Ramlan, 1993:22).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penggantian berupa kata sini digunakan untuk menggantikan frase tempat santriwati menuntut ilmu.



4)  Kata begitu, begini, dan demikian sebagai penanda hubungan penggantian

Kata begitu, begini, dan demikian dapat berfungsi sebagai penanda hubungan penggantian dalam hubungan endoforik. Kata begitu dan demikian menggantikan ke depan, sedangkan kata begini menggantikan ke belakang (Ramlan, 1993:22-23).

Contoh:  Ayah sering marah tanpa ada sebabnya. Ia memang memiliki sifat begitu.

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda penggantian berupa kata begitu digunakan untuk menggantikan frase marah tanpa ada sebabnya.

c.   Penanda Pelesapan

Menurut Ramlan (1993:24), penanda pelesapan adalah adanya unsur kalimat yang tidak dinyatakan secara tersurat pada kalimat berikutnya. Sekalipun tidak dinyatakan tidak tersurat, tetapi kehadiran unsur kalimat itu dapat diperkirakan. Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:94), hubungan pelesapan ditandai oleh lesapnya unsur kalimat karena tidak dinyatakan secara tersurat atau tidak diucapkan pada kalimat berikutnya.

 Contoh:

Berdasarkan peraturan, sekolah-sekolah yang menumpang di gedung sekolah-sekolah negeri diberi batas waktu sampai tahun 2000. Setelah itu, harus menempati gedung sendiri (Ramlan, 1993:24).

Berdasarkan kutipan tersebut, penanda pelesapan berupa unsur kalimat yang tidak dinyatakan secara tersirat pada kalimat berikutnya adalah kalimat sekolah-sekolah yang menumpang di gedung sekolah-sekolah negeri yang secara tersirat terdapat pada rangkaian kalimat  Setelah itu, (sekolah-sekolah yang menumpang di gedung sekolah-sekolah negeri) harus menempati gedung sendiri.

d.   Penanda Perangkaian

Menurut Ramlan (1993:26), penanda perangkaian adalah adanya kata atau kata-kata yang merangkaikan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:95), penanda perangkaian ditandai oleh penggunaan kata perangkai sebagai alat penghubung antara satu kalimat dengan kalimat lainnya. Kata-kata tersebut yaitu dan, lalu, kemudian, tetapi, akan tetapi, namun, pada hal, sebaliknya, bahkan, malah, apa lagi, sesudah itu, setelah itu, sebelum itu, sementara itu, ketika itu, waktu itu, karena itu, oleh karena itu, oleh sebab itu, selain itu, selain daripada itu, di samping itu, kecuali itu, dengan itu, meskipun begitu demikian, walaupu begitu demikian, namun begitu demikian, jika begitu demikian, kalau begitu demikian, dengan begitu demikian, karenanya, akibatnya, sesudahnya, sebelumnya, dalam pada itu, dalam kaitan itu, akhirnya, misalnya, antara lain, contohnya, jadi (Ramlan, 1993:28).

Contoh:    

Pemerintah menyadari bahwa masih ada pihak-pihak atau sebagian kecil dari rakyat yang belum dapat menikmati hasil pembangunan. Oleh karena itu, dalam trilogi pembangunan pemerintah dijadikan strategi dasar pelaksanaan pembangunan (Ramlan, 1993:28).

 Berdasarkan kutipan tersebut penanda perangkai berupa kata dan berfungsi merangkaikan kalimat Pemerintah menyadari bahwa masih ada pihak-pihak atau sebagian kecil dari rakyat yang belum dapat menikmati hasil pembangunan dengan kalimat dalam trilogi pembangunan pemerintah dijadikan strategi dasar pelaksanaan pembangunan.

e.   Penanda Hubungan Leksikal

Menurut Ramlan (1993:30), penanda hubungan leksikal adalah hubungan yang disebabkan oleh adanya kata-kata yang secara leksikal memiliki pertalian. Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:95), hubungan dengan penanda leksikal ditandai oleh penggunaan kata-kata yang secara leksikal memang memiliki hubungan.  Hubungan leksikal ini terdiri dari:

1)  Pengulangan

Pengulangan adalah bukanlah proses reduplikasi yang merupakan salah satu proses morfologis, misalnya kata rumah menjadi rumah-rumah, melainkan penanda hubungan antar kalimat, yaitu adanya unsur pengulangan yang mengulang unsur yang terdapat pada kalimat di depannya (Ramlan, 1993:30). Penanda pengulangan terdiri dari 4 macam pengulangan, yaitu:

a)  Pengulangan sama tepat yaitu apabila unsur pengulangan sama dengan unsur diulang, hanya pada umumnya unsur diikuti oleh unsur penunjuk itu, ini, dan tersebut (Ramlan, 1993:31).

Contoh:          

Penulis seringkali merupakan penilai yang buruk untuk karyanya sendiri. Karenanya, cobalah minta pendapat orang lain mengenai tulisan Anda. Jangan berkecil hati, apabila orang yang Anda tanya memberikan kritik habis-habisan kepada Anda. Jadikan kritik tersebut sebagai bahan masukan bagi karya Anda selanjutnya. Apalagi, kalau masukan itu berasal dari seorang penulis berpengalaman (Ramlan, 1993:31).

 Berdasarkan kutipan tersebut penanda hubungan leksikal berupa pengulangan  kata kritik dan masukan yang diulang sama tepat pada kalimat berikutnya.

b)  Pengulangan dengan perubahan bentuk yaitu pengulangan yang disebabkan oleh  keterikatan tata bahasa, misalnya karena unsur yang diulang berupa kata kerja dan unsur pengulangannya harus berupa kata benda (Ramlan, 1993:32).

Contoh:          

Sebagai tindak lanjut kesepakatan yang pernah dilakukan antara pemerintah daerah dengan sejumlah perusahaan di tiga belas propinsi, pada hari Selasa diserahkan 403 kasus pencemaran lingkungan hidup. Penyerahan dilakukan oleh Menteri KLH Prof. Dr. Emil Salim ketika memberikan sambutan pada penandatanganan piagam kerja sama tentang peningkatan kemampuan penegakan hukum lingkungan auditorium Depkeh, Jakarta (Ramlan, 1993:32).

Berdasarkan kutipan tersebut penanda hubungan leksikal berupa pengulangan  kata diserahkan yang diulang dengan perubahan bentuk kata menjadi penyerahan.



c)  Pengulangan sebagian yaitu pengulangan sebagian dari unsur diulang (Ramlan, 1993:34).

Contoh:          

Para pengamat berpendapat, bahwa masalah Kepulauan Kuril sebagai urusan jual beli tanah yang terbesar dalam abad ini. Namun, sang tuan tanah hingga kini belum mau memutuskan untuk menjualnya, dan sang pembeli belum mengetahui berapa harga hasil tersebut. Jika melihat lingkungannya kepulauan itu tidak terlalu indah untuk dijual (Ramlan, 1993:34).

Berdasarkan kutipan tersebut penanda hubungan leksikal berupa pengulangan  kata kepulauan Kuril yang sebagian dari unsurnya diulang menjadi kepulauan itu.



d) Pengulangan parafrase yaitu pengungkapan kembali suatu konsepsi dengan bentuk bahasa yang berbeda. Jadi, pengulangan yang unsur pengulangannya berparafrase dengan unsur terulang (Ramlan, 1993:35).

Contoh:          

Kesadaran etik dan moral itu melandasi ketaatan masyarakat pada hukum. Kesadaran etik dan moral itulah yang melandasi dihayatinya disiplin nasional (Ramlan, 1993:35).

Berdasarkan kutipan tersebut penanda hubungan leksikal berupa pengungkapan kembali suatu konsepsi dengan bentuk bahasa yang berbeda, yaitu kalimat Kesadaran etik dan moral itu melandasi ketaatan masyarakat pada hukum. yang diulang menjadi Kesadaran etik dan moral itulah yang melandasi dihayatinya disiplin nasional.



2)  Sinonim

Sinonim adalah satuan bahasa, khususnya kata atau frase, yang berikutnya berbeda tetapi maknanya sama atau mirip (Ramlan, 1993:36).

Contoh:          

Kesunyian mengapung di Padang Kerusetra. Namun, kelengangan yang meliputi hamparan padang luas itu terasa menyeramkan. Bumi pun terasa kehilangan denyutnya. Peristiwa apa gerangan yang akan mengoyak kesunyiannya? (Ramlan, 1993:36).

Berdasarkan kutipan tersebut penanda hubungan leksikal berupa kata Kesunyian yang diulang dengan kata yang bersinonim, yaitu kata kelengangan.



3)  Hiponim

Dalam hiponim unsur pengulangan mempunyai makna yang mencakup makna unsur berulang. Unsur hiponim yang mencakup makna unsur yang lain disebut superordinat, dan unsur yang lain disebut subordinat (Ramlan, 1993:37).

Contoh:          

Saat ini berbagai upaya pemerataan pendidikan sudah dilakukan. Antara lain program pendidikan 9 tahun, pemberian beasiswa kepada anak yang kurang mampu, pemberian beasiswa bagi anak yang berprestasi (Ramlan, 1993:37).

Berdasarkan kutipan tersebut, kalimat berbagai upaya pemerataan pendidikan sudah dilakukan  merupakan superordinat dari kalimat program pendidikan 9 tahun, pemberian beasiswa kepada anak yang kurang mampu, pemberian beasiswa bagi anak yang berprestasi.

 
 
oleh Yadhi Rusmiadi Jashar

"Sumingkem dan Sumangap fardlu ke bazaar. Di to ko, wu li porcelain, setrijkezer, dan meza kula varga. Tad api wang habis, banca rotto." 

Harus diakui, tidak ada bahasa di negara manapun yang terbebas dari anasir-anasir di luar dirinya. Tidak terkecuali bahasa Inggris yang telah mendunia. Pun begitu dengan bahasa Indonesia.
Bahkan, seperti yang diintroduksi Remy Silado, "Sembilan dari sepuluh bahasa Indonesia berbau asing" (Remy Silado tidak menyebutkan lebih lanjut apakah bahasa daerah termasuk dalam bilangan "Sembilan" itu atau tidak). Ia menengarai, bahasa Indonesia adalah bahasa gado-gado. Ia pun meragukan bahasa Melayu sebagai akar bahasa Indonesia.

Kecurigaan Remy Silado itu mungkin ada benarnya. Kalau kita mencangkuli bumi bahasa Indonesia, kita akan menemukan akar yang menjalar dan menjulur ke Cina, Sanskerta, India, Belanda, Arabia, Perancis, Portugis, Inggris, Spanyol, dan lainnya. Artinya, bahasa Indonesia yang kita gunakan tidak berasal dari satu bahasa. Coba perhatikan kosakata berikut; beli~wu li, toko~to ko (Cina), pensil~pencil, porselin~porcelain (Inggris), baca~va ca, keluarga~kula varga, tetapi~tad api (sansekerta), koran~krant, buku~boek, seterika~setrijkezer (Belanda), meja~meza, peniti~alfinete (Portugis), sepeda~velocipede, unik~unique (Perancis), idola~eidolon (Yunani), perlu~fardlu (Arab), bangkrut~banca rotto (Italia). Belum lagi bahasa daerah semisal pantai, amboi, serentak, dan santai.

Insinuansi Remy Silado itu rasanya cukup beralasan bila kita cermati lagi bahasa Indonesia. Begitu banyak unsur luar merasuk dan mengalir di tubuh bahasa Indonesia. Derasnya arus kosakata atau istilah baru di bidang IT, telah pula meyibukkan para pakar bahasa, menyusun kamus istilah atau kamus sejenis lainnya. Itu adalah gambaran kini. Di sini. Tidak tahulah nanti.

Adakalanya anasir itu berdampak negatif bagi bahasa di suatu negara. Akan tetapi dalam perspektif perkembangan, kita harus menempatkan anasir tersebut sebagai hal yang positif yang menjadikan suatu bahasa lebih kaya dan maju dari semula.
Gelombang ketiga (the third wave) di bidang IT telah menjelajah seluruh pelosok dunia. Istilah seputar parabola, komputer, internet, dan telepon selular; install, mouse, upload, keyboard, download, print, dan lain-lain, telah merambah bumi bahasa Indonesia.
Lalu, akan semakin tersingkirkah bahasa Indonesia dari buminya tatkala istilah asing semakin bertambah banyak menghinggapi lahan-lahan kosong di bumi bahasa Indonesia?

Itu merupakan ilustrasi yang tidak perlu disikapi secara pragmentaris dan berlebihan. Kita sebagai pemilik sah bahasa Indonesia harus sadar bahwa bahasa Indonesia memang tidak mampu menjelaskan atau menyediakan padanan yang pas atas konsep-konsep IT. Itulah keterbatasan bahasa Indonesia. Tapi, sesungguhnya hal tersebut wajar karena sifat bahasa selalu berkembang dan terbuka. Toh, bahasa Indonesia juga menyediakan kata untuk diserap oleh bahasa lain, misalnya bambu (bamboo, Inggris), mangga (mango, Inggris), dan sebagainya.
Kita, pemilik sah bahasa Indonesia, harus bisa mencermati dan menyikapi secara bijak suatu fenomena yang mungkin berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia.

Kita tidak menginginkan bahasa Indonesia teralienasi. Kita juga tidak menginginkan bahasa Indonesia "miskin" dan terkucil dari arus modernisasi informasi teknologi yang mengglobal. Tinggal lagi bagaimana kita bersikap positif terhadap bahasa Indonesia dan arus besar yang menjalarinya.