page contents
 
Oleh Yadhi Rusmiadi Jashar


Kalimat "Susu minum adik" merupakan kalimat yang tidak logis dan sangat mudah diidentifikasi ketidaklogisannya. Menurut nalar dan realitas sehari-hari, tidak mungkin dan tidak ada susu yang bisa minum adik. Suatu kalimat dianggap logis apabila kalimat itu mengandung makna yang diterima akal sehat.

Dalam komunikasi lisan maupun tulisan, kasus-kasus ketidaklogisan kalimat cukup banyak kita temukan bahkan karena sudah terlalu sering, ketidaklogisannya itu menjadi tidak tampak. Perhatikan beberapa contoh kalimat tidak logis berikut.

1. Pak Uum mengajar bahasa Indonesia di sekolah kami.

2. Bersama surat ini saya beritahukan bahwa saya tidak bisa menghadiri rapat nanti. 


3. Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup.

  Ketiga contoh kalimat tidak logis tersebut disebabkan pemilihan kata "mengajar", "bersama", dan "dipelajarkan" yang kurang tepat.




================
Pak Uum mengajar bahasa Indonesia di sekolah kami.

Konstruksi kalimat tersebut pernah dibahas Pak Uum Gatot Karyanto. Kalimat tersebut tidak logis karena penggunaan kata turunan "mengajar" yang tidak tepat. Perbaikan terhadap kalimat tersebut adalah dengan cara mengganti kata "mengajar" dengan kata "mengajarkan" atau "mengajari".

Jadi, perbaikannya sebagai berikut.

1. Pak Uum mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah kami.

2. Pak Uum mengajari kami bahasa Indonesia. 

====================

Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup.

Kalimat tersebut tidak logis karena penggunaan kata "dipelajarkan" yang tidak tepat. Agar logis, kata "dipelajarkan" harus diganti dengan "diajarkan" atau "dipelajari". 


====================

Letak ketidaklogisan kalimat "Di sekolah kami dipelajarkan berbagai kecakapan hidup" adalah seolah-olah 'berbagai kecakapan hidup' itu dijadikan 'pelajar'. Wah, pada kalimat (1) saya mendapat kehormatan menjadi pemeran utama, nih. Lumayan untuk menaikkan rating dan honor pada kontrak-kontrak berikutnya. 

======================


 


Comments




Leave a Reply