page contents
 
Ani Gorrell 

 Mohon penjelasan. Dulu, kata 'secara' digunakan sebagai 'adverb of manner', misalnya secara hukum, secara logis dst. Tapi sekarang, terutama dalam bahasa percakapan, saya menjumpai pemakaian kata 'secara' yang berarti 'karena' dan entah apa lagi. Saya merasa 'risih' setiap mendengar penggunaan 'secara' yang melenceng dari arti aslinya. Apakah arti (arti-arti) yang baru ini sudah atau akan dibakukan? Apakah melalui proses ini, suatu hari kata 'secara' akan diterima publik sebagai kata yang memiliki banyak arti? 
o   

Uum G. Karyanto 

Saya juga sering menemukan pemakaian kata 'secara' seperti yang dikemukakan Mbak Ani Gorrell. Misalnya, "Secara Elin tidak pernah mau mendengar saran orang lain". Jika kita cermati, pemakaian 'secara' pada kalimat ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kualitas tertentu dari Elin. Di dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia kata 'secara' dikategorikan sebagai preposisi (kata depan). Makna yang disandang kata itu (KBBI) adalah (1) sebagai, selaku: hendaklah kamu bertindak secara laki-laki; (2) menurut (tt adat,kebiasaan, dsb): perkawinan akan dilaksanakan secara adat keraton; (3) dengan cara, dengan jalan: perselisihan itu akan diselesaikan secara damai; (4) dengan: hal itu diuraikan secara ringkas,serangan itu dilakukan secara besar-besaran. Dari empat makna ini tidak satu pun yang serasi jika digunakan sebagaimana kalimat contoh di atas. Dengan demikian, pemakaian kata 'secara' dalam kalimat semacam itu tidak bisa diterima, apalagi dibakukan. Apakah penggunaan kata 'secara' semacam itu suatu saat akan dibakukan? Saya tidak tahu karena bahasa bersifat dinamis. Akan tetapi, kaidah tata bahasa juga mempunyai kemampuan untuk membatasi pemakaian bahasa yang tidak teratur, terutama dalam ragam bahasa resmi. Gejala seperti yang terlihat dalam kalimat contoh di atas menandai adanya kreativitas penggunaan bahasa dalam ragam tidak resmi. Secara populer, orang mengatakannya "bahasa gaul". Tetapi, sebagai orang yang taat asas, kita tidak akan menggunakannya dalam bahasa resmi. Demikian kira-kira, Mbak Ani. Semoga rasa 'risih'-nya berubah menjadi 'maklum'. Salam buat orang-orang tercinta di Ottawa, Kanada.




Leave a Reply.